Setiap wanita hamil umumnya mempunyai berbagai keluhan yang menyertai masa-masa kehamilan disebabkan oleh perubahan dalam tubuhnya. Keluhan itu bisa bermula dari gangguan ringan seperti konstipasi dan kram otot sampai gangguan yang lebih serius seperti diabetes atau hipertensi. Masing-masing individu memiliki keluhan berbeda tergantung kondisi fisiknya. Ada yang selama kehamilan tidak menemukan keluhan berarti, tetapi tak sedikit pula wanita hamil yang mengeluhkan berbagai gangguan. Oleh karena itu, wanita hamil sebaiknya mengenali gejala yang dialaminya agar dapat dilakukan terapi lebih lanjut untuk kesehatannya sekaligus janin dalam kandungannya. Apa saja gangguan yang sering menyertai kehamilan? berikut ulasannya.
Anemia
Mayoritas wanita hamil berisiko menderita anemia dengan gejala cepat lelah, nafas pendek, dan sering pusing. Gangguan ini bisa disebabkan karena kekurangan zat besi. Pada masa kehamilan zat besi sangat diperlukan untuk memproduksi sel-sel darah merah janin sehingga kebutuhan akan zat besi bertambah dua kali lipat. Anemia pada wanita hamil juga bisa disebabkan oleh kekurangan asam folat. Akibat kekurangan asam folat, janin bisa mengalami risiko kecacatan otak dan sumsum tulang belakang. Anemia juga dapat meningkatkan risiko penyakit infeksi setelah melahirkan. Pada kondisi ini wanita hamil disarankan untuk mengatur nutrisi pada makanannya atau bila perlu mengkonsumsi suplemen zat besi dan asam folat selama hamil.
Infeksi Saluran Kemih
Infeksi pada saluran kemih dapat terjadi pada wanita hamil akibat perluasan rahim yang menekan saluran penghubung ginjal dan ureter sehingga aliran urin terhambat. Berkurangnya kecepatan aliran urin menyebabkan bakteri berkembang biak dan menimbulkan infeksi dengan gejala sering kencing, rasa sakit dan panas pada waktu kencing atau urin keruh atau bercampur darah. Penanganan yang paling tepat adalah dengan terapi antibiotik. Jangan anggap sepele gejala ini dan segeralah berkonsultasi dengan dokter. Infeksi kandung kemih yang tidak diobati dengan baik dapat menyebabkan infeksi pada ginjal.
Hyperemesis Gravidarum
Hyperemesis gravidarum merupakan gangguan yang ditandai dengan mual dan muntah berlebihan pada wanita hamil. Gejala ini berbeda dengan morning sickness yang biasa dialami pada awal masa kehamilan. Mual dan muntah yang dialaminya dapat mengakibatkan penurunan berat badan sekaligus dehidrasi. Wanita hamil yang mengalami gangguan ini selama masa kehamilan perlu diberi perawatan intensif di rumah sakit saat gejala terjadi hebat. Setelah itu, porsi makan diberikan sedikit demi sedikit secara bertahap disertai terapi obat penenang dan antimuntah bila perlu.
Preeklamsia
Sekitar 5% dari wanita hamil mengalami preeklamsia, suatu kondisi abnormal kehamilan yang ditandai dengan kenaikan tekanan darah (hipertensi) disertai adanya protein di dalam urin. Preeklamsia umumnya terjadi pada minggu ke-20 kehamilan dan akhir minggu pertama setelah melahirkan. Penyebabnya belum diketahui secara pasti, tetapi hal ini biasa terjadi pada wanita yang pertama kali mengandung, pernah mengalami preeklamsia pada kehamilan sebelumnya, atau wanita hamil yang sudah menderita hipertensi. Bayi yang terlahir dari ibu yang mengalami preeklamsia diduga 4-5 kali lebih rentan terhadap masalah di kemudian hari dibanding bayi pada wanita hamil tanpa komplikasi ini. Berat badan si bayi mungkin lebih kecil karena malfungsi plasenta maupun karena kelahiran prematur.
Jika preeklamsia terjadi pada awal kehamilan, wanita hamil perlu konsultasi ke dokter secara teratur disamping istirahat yang cukup. Kondisi ini memerlukan pengawasan medis dan pemberian obat antihipertensi (hidralazin atau labetolol) saat persalinan serta perawatan intensif pasca melahirkan (check up 2 minggu setelah bulan pertama pasca persalinan).
Diabetes Gestational
Sebanyak 1-3 % wanita menderita diabetes selama masa kehamilan (diabetes gestational). Gangguan ini umumnya terjadi pada wanita kegemukan atau dari kelompok etnik tertentu seperti wanita ras meksiko, amerika dan asia. Diabetes gestational terjadi akibat ketidakmampuan tubuh memproduksi insulin yang kebutuhannya bertambah seiring usia kehamilan. Bila kadar gula darah tidak dikontrol secara teratur akan meningkatkan risiko gangguan kesehatan pada sang ibu dan janin. Oleh karenanya, wanita hamil dengan diabetes gestational memerlukan diet rendah gula dalam asupan makannya diikuti dengan penurunan berat badan (pada kasus kegemukan). Umumnya setelah persalinan, penyakit ini dapat berangsur hilang. Namun perlu dicatat bahwa diabetes gestational dapat berkembang menjadi diabetes tipe-2 saat usia wanita bertambah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar